Minggu, 28 Juli 2013

Jumlah pembaca rubrik olahraga Jawa Pos

Jumlah pembaca rubrik olahraga 
 Jawa Pos didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut dipengaruhi oleh ketimpangan yang terjadi pada dunia olahraga. Wanita hanya dijadikan sebagai faktor pendukung yang keberadaannya bukan prioritas, bukan yang utama. Misalnya dalam beberapa kasus olahraga profesional, wanita hanya sebagai objek pelengkap seperti umbrella girls di otomotif sports, atau pemandu sorak dalam beberapa olahraga (Davis, 1973:120). 

Pertandingan-pertandingan olahraga bertaraf nasional, regional, maupun internasional dapat dilihat oleh hampir seluruh orang di muka bumi ini dapat dilihat siapa dalam olahraga yang begitu populer saat ini, yaitu laki-laki. Dari dunia olahraga yang nyata ini memunculkan ketertarikan yang berbeda terhadap preferensi membaca sebuah bacaan olahraga. Laki-laki yang merasa dominan dalam bidang olahraga akan lebih banyak menyukai content media yang berbau olahraga dibandingkan dengan perempuan.
Selain hal tersebut, faktor yang mempengaruhi dalam pembacaan sebuah content olahraga dalam media adalah macam content media itu sendiri. Liputan media untuk berita tentang olahraga wanita juga kurang, padahal olahraga pria selalu mendapatkan perhatian media surat kabar, radio bahkan televisi. Dalam beberapa surat kabar, perempuan tidak mendapatkan perhatian yang cukup mengenai dunia olahraga mereka, tidak seperti laki-laki. Contoh yang ada pada rubrik olahraga Jawa Pos dapat dilihat dari header halamannya, yaitu Total Football, Liga Champion, Liga inggris, Formula 1, dan header lainnya  yang menunjukkan bahwa pelaku olahraga adalah laki-laki. Sehingga ketertarikan terhadap olahraga tersebut menyebabkan perilaku selektif (berkaitan langsung dengan preferensi) yang akan menyeleksi hal-hal yang mendukung keyakinannya dalam memilih informasi dalam content media yang menarik minat mereka (Nurudin, 2003: 183).
Faktor yang menjadikan dominasi laki-laki terhadap rubrik olahraga Jawa Pos ini adalah konstruksi sosial pada gender. Sejak kecil, anak-anak khususnya di Indonesia, diajarkan perbedaan peranan gender dalam kehidupan sehari-hari. Seperti penggunaan ilustrasi “anak perempuan yang selalu membantu ibunya di dapur atau anak laki-laki yang bermain layang-layang”. Demikian juga penggunaan kalimat, “Ayah membaca koran, sedangkan ibu memasak di dapur.”
Secara tidak langsung, penggunaan ilustrasi dan kalimat semacam itu telah memiliki andil untuk menanamkan kepribadian yang bias gender kepada setiap individu. Muncul stereotipe bahwa anak perempuan tidak pantas bermain layang-layang atau seorang ibu yang tak layak membaca koran. Stereotipe tersebut akan mempengaruhi perempuan untuk tidak membaca koran seperti halnya laki-laki, apalagi dengan content olahraga yang cenderung bersifat maskulin (Davis, 1973:120).
Maskulinitas content dalam rubrik olahraga Jawa Pos sangat menonjol. Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah header “TOP Figure” dalam rubrik olahraga yang membahas tentang profil atlet atau tokoh olahraga. Dalam pembahasan yang dilakukan oleh rubrik olahraga Jawa Pos sebagai media, sebenarnya tidak memiliki spesifikasi tertentu untuk menjadikan laki-laki atau perempuan sebagai segmentasinya. Namun, jika dilihat dari jumlah survey yang dilakukan secara acak, sebagian besar pembaca rubrik olahraga Jawa Pos tersebut adalah laki-laki, maka disini menunjukkan adanya pengaruh antara content gender yang ditampilkan dengan ketertarikan minat para pembacanya berdasarkan gender (Davis, 1973:120).
Selanjutnya cara baca masyarakat Surabaya menggambarkan bahwa masyarakat Surabaya membaca surat kabar secara berurutan. Hal ini disebabkan oleh adnya mayoritas masyarakat Surabaya yang membaca header Sportainment yang letaknya berada paling depan. Dari letaknya tersebut, masyarakat Surabaya yang akan memulai membaca sebuah rubrik tentunya akan secara tidak sadar memperhatikan berita apa yang paling baru yang diliput oleh Jawa Pos.
Selain dari faktor letak yang ada paling depan, pada header halaman spotainment tersebut terletak sebuah headline berita yang menjadi topik utama untuk dibahas. Pada hakikatnya headline yang terdapat pada header Sportainment tersebut merupakan intisari dari berita olahraga yang ingin ditonjolkan oleh rubrik olahraga Jawa Pos. Dibuat dalam satu atau dua kalimat pendek, tapi cukup memberitahukan persoalan pokok peristiwa yang nantinya menentukan minat audience untuk membaca atau tidak (Itule & Anderson, 2003:149).
Cara Baca Terhadap Rubrik Olahraga
Masyarakat Surabaya menunjukkan konsistensi terhadap membaca sebuah berita. Masyarakat Surabaya membaca berita berdasarkan header halaman, jenis olahraga, maupun dari coverage area beritanya dengan cara sama. Mayoritas masyarakat Surabaya membaca sebuah berita olahraga dengan cara acak. Kemudian peneliti menganilisa hal tersebut dikarenakan pada tahap perhatian yang selektif terhadap isi berita, pembaca tidak serta merta membaca semua content dari media, tetapi memberikan batasan terhadap dirinya sendiri untuk mengkonsumsi content sesuai dengan kebutuhannya (Retno Wahyu, 1997: 142). Sehingga kebutuhan setiap masyarakat Surabaya dalam membaca content rubrik olahraga Jawa Pos dapat diketahui dari apa saja yang dibacanya.
Kemudian dari pernyataan salah satu masyarakat Surabaya yang memiliki tingkat pendidikan sampai dengan Sarjana 3 mengatakan bahwa cukup membaca dua paragraf awal untuk mendapatkan informasi yang penting saja. Dia juga mengatakan bahwa dua paragraf di awal biasanya sudah mewakili 5 pertanyaan prinsip yang bisa diajukan, yaitu What (apa yang terjadi), Who (subjek yang terlibat dalam kejadian), Where (tempat kejadian), When (waktu kejadian), Why (penyebab terjadi sesuatu), How (bagaimana suatu kejadian bisa timbul). Paragraf selanjutnya adalah sebagai penjelas dan komentar.
Cara baca setiap masyarakat Surabaya juga dipengaruhi oleh kategori sosialnya, seperti tingkat pendidikan dan jumlah penghasilan. Meskipun bahasan olahraga merupakan tema yang universal, namun setiap masyarakat Surabaya yang memiliki tingkat pendidikan maupun jumlah penghasilan yang berbeda akan membaca rubrik olahraga dengan cara yang berbeda pula. Faktor jenis kelamin juga memiliki andil untuk mempengaruhi cara baca setiap masyarakat Surabaya. Perempuan dengan sifat feminin-nya akan lebih menyukai hal yang lebih detil daripada laki-laki, sehingga akan membaca content berita olahraga secara keseluruhan isi.
Masyarakat Surabaya cenderung lebih tertarik kepada gambar berita. Mayoritas dari mereka mengatakan bahwa dengan membaca gambar, mereka sudah tau berita apa yang ada dalam content rubrik olahraga. kemudian peneliti menganalisa jawaban masyarakat Surabaya tersebut karena gambar realitas dalam berita tekstual telah dikontruksi sedemikian rupa sehingga mendeskripsikan realitas baru gambar gambar tersebut (Fairclough, 1995: 203).

Seperti yang dikatakan White diatas, semakin bagus gambar yang ditampilkan oleh surat kabar, maka itu akan menceritakan banyak hal. Begitu pentingnya unsur gambar dalam rubrik olahraga Jawa Pos, sehingga berpengaruh pada panjang dan pendeknya representasi atas suatu realitas olahraga yang diberitakan. Kekuatan gambar tersebut menjadi nilai berita dan terkait dengan bentuk atau penyikapan masyarakat Surabaya atas sebuah gambar tersebut. Burton

0 komentar:

Poskan Komentar