Senin, 29 Juli 2013

Olahraga dan Kesehatan

Olahraga dan Kesehatan
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diajarkan di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan  memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani,  olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis.  Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat.

Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman.

Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill. Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis  yang seimbang.
A.           Tujuan
Mata pelajaran Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.    Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih
2.        Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik
3.        Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
4.     Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
5.   Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis
6.        Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan
7.    Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
B.            Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran Pendiidikan Jasmani, Olahraga dan  Kesehatan untuk meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1.         Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya
2.    Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya
3.     Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya
4.         Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya
5.       Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air,  dan renang serta aktivitas lainnya
6.        Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung
7.         Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur  waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan  P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek.       
C.           Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran
1.        Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan olahraga dengan teknik  dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
2.        Merancang dan mempraktikkan aktivitas pengembangan untuk meningkatkan kualitas kebugaran jasmani dan cara pengukurannya   dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya
3.        Merangkai dan mempraktikkan keterampilan senam  ketangkasan dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya
4.        Merangkai dan mempraktikkan aktivitas ritmik tanpa dan menggunakan alat dengan koordinasi  dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya.


5.        Mempraktikkan salah satu gaya renang   dan loncat indah serta cara pertolongan sederhana  dan nilai nilai yang terkandung di dalamnya
6.        Merencanakan dan mempraktikkan keterampilan penjelajahan, dan penyelamatan di alam bebas  dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
7.        Menerapkan budaya hidup sehat.


TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA 
Sport education yang sebelumnya diberi nama play education (Jewett dan Bain, 1985) dikembangkan oleh Siedentop (1995). Model ini berorientasi pada nilai rujukan Disciplinary Mastery (penguasaan materi), dan merujuk pada model kurikulum Sport Socialization. Siedentop banyak membahas model ini dalam bukunya yang berjudul “Quality PE Through Positive Sport Experiences: Sport Education”. Inspirasi yang melandasi adalah kenyataan bahwa pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang digunakan oleh guru dan siswapun senang melakukannya, namun di sisi lain terlihat bahwa pembelajaran olahraga dalam konteks pendidikan jasmani tidak lengkap dan tidak sesuai diberikan kepada siswa karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sering terabaikan. 

Pembelajaran pendidikan jasmani lebih sering diajarkan melalui teknik-teknik olahraga yang sering terpisah dari suasana permainan sebenarnya atau jika pun melakukan permainan, permainan tersebut tidak sesuai dengan hakikat kemampuan siswa serta kehilangan nilai-nilai keolahragaannya dan yang lebih penting, tidak memberikan pengalaman yang lengkap pada siswa dalam berolahraga. Hal ini dianggapnya tidak sesuai dengan konsep “developmentally appropriate practices”. Bahkan dalam kenyataannya pun, untuk sebagian besar siswa cara seperti ini kurang menyenangkan dan kurang melibatkan siswa secara aktif. Model sport education diharapkan mampu mengatasi berbagai kelemahan pembelajaran yang selama ini sering dilakukan oleh para guru.

Enam karakteristik model sport education yang seringkali absen dari pembelajaran pendidikan jasmani pada umumnya adalah: musim, anggota team, pertandingan formal, puncak pertandingan, catatan hasil, perayaan hasil kompetisi. Berikut ini dijelaskan karakteristik tersebut:
a)       Musim (season) merupakan salah satu karakteristik dari model sport education yang di dalamnya terdiri dari musim latihan dan kompetisi serta seringkali diakhiri dengan puncak kompetisi.
b)        Anggota team merupakan karakteristik kedua dari model sport education. Semua siswa harus menjadi salah satu anggota dari team olahraga dan akan tetap sebagai anggota sampai satu musim selesai.
c)        Kompetisi formal merupakan karakteristik ke tiga dari model sport education. Kompetisi dalam model ini mengandung tiga arti, yaitu: festival, usaha meraih kompetensi, dan mengikuti pertandingan pada level yang berurutan. Kompetisi formal dilakukan secara berselang-seling dengan latihan dan format yang berbeda-beda: misal dua lawan dua, tiga lawan tiga dan seterusnya hingga pada tingkatan yang sesuai dengan kemampuan siswa.
d)       Puncak pertandingan merupakan ciri khas dari even olahraga untuk mencari siapa yang terbaik pada musim itu, dan ciri khas ini dijadikan karakteristik ke empat dari model sport education. Dalam pembelajaran permainan pada umumnya, pertandingan seperti ini sering dilakukan, namun setiap siswa belum tentu masuk anggota team sehingga terkadang lepas dari konteksnya.
e)        Catatan hasil merupakan karakteristik ke lima dari model sport education. Catatan ini dilakukan dalam berbagai bentuk, dari mulai dai catatan masuk goal, tendangan ke goal, curang, kesalahan-kesalahan, dan sebagainya disesuaikan dengan kemampuan siswa. Catatan ini dilakukan siswa dan guru untuk dijadikan feedback baik bagi individu maupun team.
f)         Perayaan hasil kompetisi merupakan karakteristik ke enam dari model sport education. Perayaan hasil kompetisi seperti upacaya penyerahan medali berguna untuk meningkatkan makna dari partisipasi dan merupakan aspek sosial dari pengalaman yang dilakukan siswa. Keenam karakteristik model sport education ini oleh Siedentop dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa proses pembelajaran pada umumnya tidak lengkap dalam mengajar siswa melalui olahraga.

1.    Perbedaan Sport Education dengan Sport 
Perbedaan yang mencolok antara sport education dengan sport (olahraga) adalah: persyaratan partisipasi (participation requirements), keterlibatan yang sesuai dengan perkembangan siswa (developmentally appropriate involvement), dan peran yang lebih beragam (more diverse roles).
a)      Persyaratan partisipasi (participation requirements). Sport education menuntut adanya partisipasi penuh dari semua mahasiswa pada semua musim. Tuntutan ini akan mempengaruhi pertimbangan dalam memilih jumlah team dan anggota pada masing-masing team, dan karakteristik kompetisi yang dilakukannya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: (1) Sistem gugur sedapat mungkin dihindari. (2) Jumlah anggota team yang terlalu banyak juga harus dihindari sebab permainan cenderung akan didominasi oleh siswa yang sudah terampil. (3) Puncak pertandingan harus merupakan even untuk semua siswa tidak hanya untuk siswa atau team yang paling baik. (4) Semua siswa mendapat kesempatan yang sama pada semua peran.
b)      Keterlibatan yang sesuai dengan perkembangannya (developmentally appropriate involvement). Bentuk olahraga yang digunakan dalam sport education harus sesuai dengan pengalaman dan kemampuan siswa. Semua olahraga harus diberikan secara bertahap dan dimodifikasi namun menyeluruh pada keenam karakteristik sport education tersebut di atas.
c)      Peran yang lebih beragam (more diverse roles). Model sport education menuntut siswa memainkan banyak peran daripada olahraga pada umumnya yang hanya berperan sebagai pemain. Dalam model sport education, selain belajar berperan sebagai pemain, siswa juga belajar sebagai pelatih, wasit, dan pencatat skor. Pada kasus model tertentu, siswa dapat belajar sebagai manager, instruktur, penyiar, dan penulis berita olahraga. 
2.    Implementasi Model Sport Education 
Menurut Siedentop (1995) seperti model-model pembelajaran lain, model sport education dapat diimplementasikan secara baik atau sebaliknya. Keberhasilan dan kegagalan model ini bergantung kepada bagaimana para guru, implementasinya. Menurut Siedento et al (2004) terdapat beberapa petunjuk dan saran untuk membantu para guru memulai implementasi model sport education kemudian membangun keberhasilan pada pelaksanaannya.

Jika para guru mencoba model sport education, maka mulailah dengan kemauan untuk berhasil melaksanakannya. Hal tersebut akan membuat perencanaan menjadi penting. Perencanaan pada percobaan awal harus memasukkan pertimbangan tentang olahraga yang dipilih, tingkat keterlibatan siswa, materi yang diperlukan untuk melaksanakannya secara mulus, serta strategi untuk menghasilkan atmosfir festival yang memotivasi siswa.

Model sport education memerlukan partisipasi penuh dari para siswa. Sedangkan permasalahannya tetap klasik, yaitu bahwa waktu untuk pembelajaran sangat terbatas, padahal mahasiswa harus tetap memiliki pengalaman berhasil sebanyak mungkin. Oleh karena itu, cabang olahraga formal yang dilaksanakan dengan format sebenarnya harus dipertimbangkan akibatnya. Hampir semua cabang olahraga dapat dimodifikasi untuk membuatnya lebih bersifat tepat sesuai perkembangan (developmentally appropriate) serta memastikan adanya keterlibatan penuh dari siswa. Partisipasi di sini berarti benar-benar melaksanakan keterampilan dan terlibat dalam permainan strategis sebagai seorang anggota regu. Sudah bukan rahasia bahwa permainan yang dilakukan secara formal akan menyebabkan siswa yang terlibat dalam permainan tidak benar-benar berpartisipasi. 


Meskipun hakikat khusus dari setiap peran berbeda dari situasi ke situasi, berikut adalah tugas yang harus dijalankan oleh setiap peran tersebut:
a)      Pelatih atau kapten regu bertugas memimpin pemanasan, mengarahkan latihan keterampilan dan strategi, membantu membuat keputusan tentang susunan pemain, menyerahkan susunan pemain tadi kepada pengajar atau manajer, dan umumnya memberikan pengarahan untuk regunya sendiri.
b)   Asisten Pelatih atau kapten membantu kapten dan mengambil alih peranan mereka jika mereka tidak hadir.
c)    Wasit bertugas memimpin pertandingan, membuat keputusan tentang peraturan, dan secara umum menjaga agar pertandingan berlangsung tanpa gangguan.
d)   Pencatat nilai mencatat skor penampilan ketika hal itu terjadi, menjaga penghitungan yang masih berubah dari kompetisi yang masih berlangsung, mengumpulkan skor, dan menyerahkan hasil akhir kepada personel yang tepat (guru, manajer, atau statistisian).
e)    Statistisian mencatat data penampilan yang menojol, menggabungkannya ketika sudah tuntas, menyimpulkan keseluruhan kompetisi, dan menyerahkan data tersebut kepada pihak yang berwenang (guru, reporter, atau manajer).
f)    Reporter mengambil catatan dan statistik yang terkumpul dan mempublikasikannya. Publikasi ini diterbitkan melalui lembaran mingguan olahraga, koran sekolah, poster, atau newsletter khusus model sport education.
g)   Manajer sering digunakan untuk membedakan peran kepemimpinan dari pelatih dari tugas administratif suatu regu. Manajer bertugas menyerahkan formulir yang diperlukan, membantu menetapkan peranan yang tepat sebagai atlet, wasit, pencatat nilai, atau sejenisnya, dan secara umum menetapkan fungsi-fungsi administratif tentang tanggung jawab regu.
h)   Trainer bertanggung jawab untuk mengetahui cedera umum yang terkait dengan olahraga, mendapatkan akses pada tindakan pertolongan pertama, dan untuk melapor kepada pengajar tentang setiap masalah cedera selama latihan atau pertandingan. Meskipun mereka tidak harus memberikan pertolongan pertama tanpa pengawasan pengajar, mereka dapat membantu pengajar dalam pengadministrasian pertolongan pertama dalam dalam rehabilitasi berikutnya.
i)     Penyiar dapat memperkenalkan para pemain dan menjelaskan jalannya permainan yang sedang berlangsung selama pertandingan.
Peran-peran tersebut di atas dapat dengan mudah dipelajari ketika terdapat deskripsi yang dan kriteria yang jelas terhadap penampilan peran tersebut. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membuat sebuah booklet yang menjelaskan tugas dari setiap peran dan menjelaskan secara tepat tugas yang harus diselesaikan serta kapan harus dilaksanakannya. Booklet semacam itu harus diserahkan kepada para siswa dan dikembalikan secara utuh pada akhir musim pertandingan (pengajar membuat aturan tentang pengembalian dalam sistem akuntabilitas yang harus dipenuhi).
3.    Program Evaluasi
Contoh penilaian di bawah ini menggambarkan bagaimana sport education dinilai. Pengajar menggunakan daftar periksa (checklist) keterampilan untuk menetapkan tingkat kemampuan siswa dalam pertandingan. Daftar periksa tersebut dapat juga digunakan untuk tujuan penilaian. Daftar tersebut menunjukkan kemajuan dan penyelesaian yang berhasil dalam keterampilan yang relevan. Rangkaian itu merupakan jenis penampilan yang relevan untuk dinilai dan mewakili keterampilan otentik dalam sport education.
Dalam beberapa model, tes tertulis tentang bagaimana memainkan dan mewasiti suatu cabang olahraga dapat juga digunakan. Dalam pembelajaran voli, siswa melakukan satu paket keterampilan setiap hari dengan dicatat oleh kapten regu penampilannya. Penampilan harian ini dikumpulkan dan disajikan sebagai sebuah penampilan semusim pertandingan. Kumpulan catatan demikian juga memberikan informasi penilaian yang berguna. Catatan demikian menunjukkan kemajuan selama pembelajaran dan sekaligus tingkat penampilan otentik dan absolut dari siswa.
Dalam model sport education yang memilih program peningkatan kebugaran (kekuatan), terdapat tantangan harian dan mingguan di samping catatan angkatan dalam seluruh musim. Data tersebut tentu akan dapat digunakan untuk tujuan penilaian. Catatan tersebut dapat digunakan untuk menentukan tingkat kemajuan dan juga tingkat penampilan absolut siswa. Dalam model sport education, tujuan dari pembelajaran atau musim kompetisi dalam cabang olahraga tertentu disajikan bersama-sama dengan cara penilaiannya. Data dari hasil penilaian tersebut dikumpulkan sebagai satu bagian teratur dari siswa selama musim sport education.

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH
This training aims at giving preview in the arrangement of sport education model for increasing the quality of physical education learning at schools.

There are two approaches for activities method. First is theoretical approach which consists of material presentation, discussion, and question answer. Second one is making a model of sport eucation with many sports. Each of approaches then was evaluated using sport eucation model for physical education class. The material presentation focuses on: theoretical and practical material about sport education models, model implementation, model assesment, and physical education models.

The indication of training successfulness could be seen from the high motivation of participants in following it and also from the new science and skill about sport education model that was gotten. The program of people service was going well and followed by 53 of participants (physical education teachers). 

Based on result discussion that was presented then there are some high light points: (1) There are 8 (eight) groups or 43 participants succesing to make sport education model, and (2) There are 2 (two) groups or 10 participants not succesing yet to make sport education model. From eight group wich succesing to make sport education model then: (1) There are 2 (two) groups succesing to make sport education model for basketball sport, (2) There are 2 (two) groups succesing to make sport education model for volleyball sport, (3) There are 2 (two) groups succesing to make sport education model for futsal sport, (4) There are 1 (one) group succesing to make sport education model for athetik sport, (5) There are 1 (one) group succesing to make sport education model for gymnastic sport.

 Pendidikan Jasmani, yang dalam kurikulum disebut secara paralel dengan istilah lain menjadi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, merupakan salah satu mata pelajaran yang disajikan di sekolah, mulai dari SD sampai dengan SMA. Pendidikan Jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (CDC, 2000; Disman, 1990; Pate dan Trost, 1998).
Pengalaman gerak yang didapatkan siswa dalam Pendidikan Jasmani merupakan kontributor penting bagi peningkatan angka partisipasi dalam aktivitas fisik dan olahraga yang sekaligus juga merupakan kontributor penting bagi kesejahteraan dan kesehatan siswa (Siedentop, 1990; Ratliffe, 1994; Thomas and Laraine, 1994; Stran and Ruder 1996; CDC, 2000). Untuk itu tidak mengherankan, peningkatan kualitas dan efektivitas proses belajar mengajar (PBM) Pendidikan Jasmani selalu menjadi fokus perhatian semua pihak yang peduli terhadap pendidikan.
Sejauh ini proses pembelajaran pendidikan jasmani masih berlangsung secara konservatif. Artinya pola pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered) dengan penyampaian teknik-teknik dasar cabang olahraga yang terpisah dari permainan cabang olahraga tertentu. Sebaliknya model sport education berorientasi pada keterlibatan siswa secara langsung (student centered) dimana program pembelajarannya dikemas dalam bentuk kompetisi olahraga. Metode ini dipercaya mampu mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral yang baik, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani terpilih.
Berdasarkan observasi lapangan tentang pembelajaran pendidikan jasmani di beberapa sekolah baik SD, SMP maupun SMA, pembelajaran masih disampaikan secara terpisah antara teknik dasar olahraga dengan suasana permainan sebenarnya. Apabila melakukan permainan, permainan tersebut tidak sesuai dengan hakikat kemampuan siswa serta kehilangan nilai-nilai keolahragaannya. Terlebih proses pembelajaran tidak memberikan pengalaman yang lengkap pada siswa dalam berolahraga. Hal ini dianggapnya tidak sesuai dengan konsep “developmentally appropriate practices”. Bahkan dalam kenyataannya pun, untuk sebagian besar siswa cara seperti ini kurang menyenangkan dan kurang melibatkan siswa secara aktif. Dengan kata lain bahwa kompetensi dasar dan standar kompetensi pendidikan jasmani di sekolah berorientasi pada pembelajaran gerak semata (motor learning).
Berikut ini adalah ciri-ciri pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah yang selama ini diterapkan oleh guru, yang pengusul ambil selama survey awal di sekolah-sekolah di wilayah D.I. Yogyakarta selama tahun 2008-2009, antara lain:
1.        Metode pembelajaran berorientasi pada Teacher Centered bukan Student Centered.
2.        Menggunakan unit pembelajaran yang biasanya pendek.
3.        Sangat sedikit menggunakan sistem kompetisi olahraga.
4.        Minimnya unsur-unsur permainan dalam proses pembelajaran.
5.        Nilai-nilai olahraga seperti nilai kompetisi, fair play, kerjasama kurang tampak.
6.        Proses pembelajaran kurang menyenangkan bagi siswa dan cenderung monoton.

Berdasarkan survey awal tentang tanggapan implementasi model sport education di sekolah, diketahui bahwa 60% guru mengatakan perlu, 20% guru mengatakan tidak perlu, dan 10% guru mengatakan ragu-ragu. Dalam sebuah penelitian tentang implementasi model sport education yang pernah pengusul lakukan pada matakuliah permainan bolatangan, diketahui bahwa partisipasi dan antusias mahasiswa dalam proses pembelajaran dalam kategori tinggi. Selain itu juga telah dihasilkan sebuah buku panduan tentang implementasi model sport education bagi mahasiswa.

Model sport education memiliki tujuan untuk mendidik siswa menjadi pemain dalam arti sesungguhnya serta membantu mereka berkembang untuk menjadi olahragawan yang kompeten, bijaksana dan berpengetahuan, serta antusias. Model sport education menawarkan metode pembelajaran yang lebih lengkap dengan apa yang selama ini dilakukan oleh guru-guru pendidikan jasmani. Sebelumnya model sport education sudah dulu eksis di negara Amerika Serikat, yang diperkenalkan oleh Daryl Siedentop sejak tahun 1994.
Model sport education memiliki tujuan khusus antara lain untuk:
1.    Mengembangkan keterampilan dan kebugaran.
2.    Menghargai dan dapat melakukan permainan strategis dalam olahraga.
3.    Berperan serta secara layak sesuai dengan tahap perkembangannya.
4.    Berbagi peran dalam perencanaan dan administrasi program olahraga.
5.    Memberikan dan mengembangkan kepemimpinan yang bertanggung jawab.
6.    Menghargai ritual dan konvensi keunikan makna dari setiap cabang olahraga.
7.    Mengembangkan dan menerapkan pengetahuan tentang perwasitan, penilaian dan pelatihan.

Menurut Siedentop proses pembelajaran pendidikan jasmani pada umumnya tidak berlangsung secara lengkap, sehingga ketiga aspek pendidikan jasmani tidak tercapai dengan baik. Oleh karena itu, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Unggulan Berbasis Penelitian dari FIK UNY bermaksud untuk melaksanakan pelatihan penyusunan model sport education bagi guru pendidikan jasmani baik di tingkat SD, SMP dan SMA. PPM unggulan ini sesuai dengan hasil penelitian pendidikan yang pernah dilakukan pengusul dengan judul Pengembangan Model Sport Education pada Matakuliah Dasar Gerak Bolatangan, tahun 2009.

PELATIHAN PENYUSUNAN MODEL SPORT EDUCATION SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS

PELATIHAN PENYUSUNAN MODEL SPORT EDUCATION SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KUALITA
Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan dalam penyusunan model sport education bagi guru pendidikan jasmani sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani.

Metode kegiatan menggunakan pendekatan teoritis yang terdiri dari pemaparan materi, diskusi, dan tanya jawab. Selanjutnya menyusun model sport education berbagai macam cabang olahraga pilihan. Masing-masing pendekatan di akhiri dengan evaluasi program pembelajaran. Materi yang disampaikan meliputi: penyampaian materi ceramah dan praktik tentang model sport education, implementasi model, dan penilaian model. 

Indikator keberhasilan ditandai dengan (1) tingginya motivasi peserta dalam mengikuti kegiatan, (2) dimilikinya pengetahuan dan keterampilan baru tentang model sport education pada pembelajaran pendidikan jasmani, dan (3) banyaknya jumlah peserta yang mampu membuat model sport education yaitu sejumlah 53 orang guru penjas.

Berdasarkan hasil pelatihan penyusunan model sport education yang terdiri dari pembuatan silabus, RPP, dan model sport education, diperoleh hasil sebagai berikut: (1) terdapat 8 kelompok atau 43 orang peserta yang berhasil membuat model sport education, dan (2) terdapat 2 kelompok atau 15 orang peserta yang belum berhasil membuat model sport education. Dari ke 8 kelompok yang berhasil membuat model sport education, diperoleh hasil sebagai berikut: (1) terdapat 2 kelompok yang membuat model sport education cabang olahraga bola basket, (2) terdapat 2 kelompok yang membuat model sport education cabang olahraga bola voli, (3) terdapat 2 kelompok yang membuat model sport education cabang olahraga futsal, (4) terdapat 1 kelompok yang membuat model sport education cabang olahraga atletik, (5) terdapat 1 kelompok yang membuat model sport education cabang olahraga senam.

Minggu, 28 Juli 2013

Jumlah pembaca rubrik olahraga Jawa Pos

Jumlah pembaca rubrik olahraga 
 Jawa Pos didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut dipengaruhi oleh ketimpangan yang terjadi pada dunia olahraga. Wanita hanya dijadikan sebagai faktor pendukung yang keberadaannya bukan prioritas, bukan yang utama. Misalnya dalam beberapa kasus olahraga profesional, wanita hanya sebagai objek pelengkap seperti umbrella girls di otomotif sports, atau pemandu sorak dalam beberapa olahraga (Davis, 1973:120). 

Pertandingan-pertandingan olahraga bertaraf nasional, regional, maupun internasional dapat dilihat oleh hampir seluruh orang di muka bumi ini dapat dilihat siapa dalam olahraga yang begitu populer saat ini, yaitu laki-laki. Dari dunia olahraga yang nyata ini memunculkan ketertarikan yang berbeda terhadap preferensi membaca sebuah bacaan olahraga. Laki-laki yang merasa dominan dalam bidang olahraga akan lebih banyak menyukai content media yang berbau olahraga dibandingkan dengan perempuan.
Selain hal tersebut, faktor yang mempengaruhi dalam pembacaan sebuah content olahraga dalam media adalah macam content media itu sendiri. Liputan media untuk berita tentang olahraga wanita juga kurang, padahal olahraga pria selalu mendapatkan perhatian media surat kabar, radio bahkan televisi. Dalam beberapa surat kabar, perempuan tidak mendapatkan perhatian yang cukup mengenai dunia olahraga mereka, tidak seperti laki-laki. Contoh yang ada pada rubrik olahraga Jawa Pos dapat dilihat dari header halamannya, yaitu Total Football, Liga Champion, Liga inggris, Formula 1, dan header lainnya  yang menunjukkan bahwa pelaku olahraga adalah laki-laki. Sehingga ketertarikan terhadap olahraga tersebut menyebabkan perilaku selektif (berkaitan langsung dengan preferensi) yang akan menyeleksi hal-hal yang mendukung keyakinannya dalam memilih informasi dalam content media yang menarik minat mereka (Nurudin, 2003: 183).
Faktor yang menjadikan dominasi laki-laki terhadap rubrik olahraga Jawa Pos ini adalah konstruksi sosial pada gender. Sejak kecil, anak-anak khususnya di Indonesia, diajarkan perbedaan peranan gender dalam kehidupan sehari-hari. Seperti penggunaan ilustrasi “anak perempuan yang selalu membantu ibunya di dapur atau anak laki-laki yang bermain layang-layang”. Demikian juga penggunaan kalimat, “Ayah membaca koran, sedangkan ibu memasak di dapur.”
Secara tidak langsung, penggunaan ilustrasi dan kalimat semacam itu telah memiliki andil untuk menanamkan kepribadian yang bias gender kepada setiap individu. Muncul stereotipe bahwa anak perempuan tidak pantas bermain layang-layang atau seorang ibu yang tak layak membaca koran. Stereotipe tersebut akan mempengaruhi perempuan untuk tidak membaca koran seperti halnya laki-laki, apalagi dengan content olahraga yang cenderung bersifat maskulin (Davis, 1973:120).
Maskulinitas content dalam rubrik olahraga Jawa Pos sangat menonjol. Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah header “TOP Figure” dalam rubrik olahraga yang membahas tentang profil atlet atau tokoh olahraga. Dalam pembahasan yang dilakukan oleh rubrik olahraga Jawa Pos sebagai media, sebenarnya tidak memiliki spesifikasi tertentu untuk menjadikan laki-laki atau perempuan sebagai segmentasinya. Namun, jika dilihat dari jumlah survey yang dilakukan secara acak, sebagian besar pembaca rubrik olahraga Jawa Pos tersebut adalah laki-laki, maka disini menunjukkan adanya pengaruh antara content gender yang ditampilkan dengan ketertarikan minat para pembacanya berdasarkan gender (Davis, 1973:120).
Selanjutnya cara baca masyarakat Surabaya menggambarkan bahwa masyarakat Surabaya membaca surat kabar secara berurutan. Hal ini disebabkan oleh adnya mayoritas masyarakat Surabaya yang membaca header Sportainment yang letaknya berada paling depan. Dari letaknya tersebut, masyarakat Surabaya yang akan memulai membaca sebuah rubrik tentunya akan secara tidak sadar memperhatikan berita apa yang paling baru yang diliput oleh Jawa Pos.
Selain dari faktor letak yang ada paling depan, pada header halaman spotainment tersebut terletak sebuah headline berita yang menjadi topik utama untuk dibahas. Pada hakikatnya headline yang terdapat pada header Sportainment tersebut merupakan intisari dari berita olahraga yang ingin ditonjolkan oleh rubrik olahraga Jawa Pos. Dibuat dalam satu atau dua kalimat pendek, tapi cukup memberitahukan persoalan pokok peristiwa yang nantinya menentukan minat audience untuk membaca atau tidak (Itule & Anderson, 2003:149).
Cara Baca Terhadap Rubrik Olahraga
Masyarakat Surabaya menunjukkan konsistensi terhadap membaca sebuah berita. Masyarakat Surabaya membaca berita berdasarkan header halaman, jenis olahraga, maupun dari coverage area beritanya dengan cara sama. Mayoritas masyarakat Surabaya membaca sebuah berita olahraga dengan cara acak. Kemudian peneliti menganilisa hal tersebut dikarenakan pada tahap perhatian yang selektif terhadap isi berita, pembaca tidak serta merta membaca semua content dari media, tetapi memberikan batasan terhadap dirinya sendiri untuk mengkonsumsi content sesuai dengan kebutuhannya (Retno Wahyu, 1997: 142). Sehingga kebutuhan setiap masyarakat Surabaya dalam membaca content rubrik olahraga Jawa Pos dapat diketahui dari apa saja yang dibacanya.
Kemudian dari pernyataan salah satu masyarakat Surabaya yang memiliki tingkat pendidikan sampai dengan Sarjana 3 mengatakan bahwa cukup membaca dua paragraf awal untuk mendapatkan informasi yang penting saja. Dia juga mengatakan bahwa dua paragraf di awal biasanya sudah mewakili 5 pertanyaan prinsip yang bisa diajukan, yaitu What (apa yang terjadi), Who (subjek yang terlibat dalam kejadian), Where (tempat kejadian), When (waktu kejadian), Why (penyebab terjadi sesuatu), How (bagaimana suatu kejadian bisa timbul). Paragraf selanjutnya adalah sebagai penjelas dan komentar.
Cara baca setiap masyarakat Surabaya juga dipengaruhi oleh kategori sosialnya, seperti tingkat pendidikan dan jumlah penghasilan. Meskipun bahasan olahraga merupakan tema yang universal, namun setiap masyarakat Surabaya yang memiliki tingkat pendidikan maupun jumlah penghasilan yang berbeda akan membaca rubrik olahraga dengan cara yang berbeda pula. Faktor jenis kelamin juga memiliki andil untuk mempengaruhi cara baca setiap masyarakat Surabaya. Perempuan dengan sifat feminin-nya akan lebih menyukai hal yang lebih detil daripada laki-laki, sehingga akan membaca content berita olahraga secara keseluruhan isi.
Masyarakat Surabaya cenderung lebih tertarik kepada gambar berita. Mayoritas dari mereka mengatakan bahwa dengan membaca gambar, mereka sudah tau berita apa yang ada dalam content rubrik olahraga. kemudian peneliti menganalisa jawaban masyarakat Surabaya tersebut karena gambar realitas dalam berita tekstual telah dikontruksi sedemikian rupa sehingga mendeskripsikan realitas baru gambar gambar tersebut (Fairclough, 1995: 203).

Seperti yang dikatakan White diatas, semakin bagus gambar yang ditampilkan oleh surat kabar, maka itu akan menceritakan banyak hal. Begitu pentingnya unsur gambar dalam rubrik olahraga Jawa Pos, sehingga berpengaruh pada panjang dan pendeknya representasi atas suatu realitas olahraga yang diberitakan. Kekuatan gambar tersebut menjadi nilai berita dan terkait dengan bentuk atau penyikapan masyarakat Surabaya atas sebuah gambar tersebut. Burton

Preferensi Terhadap Content Rubrik Olahraga Jawa Pos

Preferensi Terhadap Content Rubrik Olahraga Jawa Pos
Pembaca merupakan individu yang aktif dalam memilih atau menyeleksi berita. Berita yang menurut mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka yang akan mereka baca, sedankan berita yang tidak sesuai dengan kebutuhannya akan diabaikan. Tidak semua individu memiliki kebutuhan yang sama dalam mendapatkan informasi dari sebuah surat kabar.
Preferensi yang dimaksud adalah bagaimana masyarakat Surabaya pembaca surat kabar Jawa Pos memiliki ketertarikan untuk membaca content yang ada pada rubrik olahraga. Pembaca diasumsikan memiliki tahap afektif dalam membaca rubrik olahraga tersebut, yaitu meliputi tahap liking dan preference. Dalam tahapan ini pembaca dapat menentukan rasa suka terhadap suatu berita maupun artikel yang terkandung dalam rubrik tersebut. Ini dipengaruhi oleh field of experience dan frame of refference yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Kemudian sampai pada tahap preference, peneliti mengasumsikan bahwa pembaca telah memiliki pilihan tertentu dari berbagai macam variasi content yang ada pada rubrik olahraga Jawa Pos yang mungkin memiliki kesamaan atau pebedaaan antar pembaca (Kasali, 1992 : 53-54).
Preferensi juga memiliki makna selectivity “…bahwa perilaku media mencerminkan dari kepentingan selektivitas audience dalam menyeleksi content...” (Rakmat, 2003: 65). Untuk selektivitas itu sendiri ada dua macam, yaitu selektivitas jenis media dan selektivitas content media. Peneliti melihat preferensi tersebut dari metode item selection dan tracking study: Yang pertama menggunakan item selection untuk mengetahui pemilihan content yang dibaca pertama kali. Cara yang digunakan adalah dengan memberikan rubrik olahraga Jawa Pos secara utuh (Satu eksemplar), kemudian pembaca disuruh untuk memberikan tanda (Stabillo) terhadap content yang pertama kali dibaca. Seperti yang diungkapkan Stamn, Jackson, dan Jacoubovitch (1980):

Preferensi Berdasarkan Perbedaan Kategori Sosial
Pada usia dewasa dini, masyarakat Surabaya lebih memiliki minat untuk membaca rubrik olahraga daripada pembaca diusia lain. Adanya perbedaan tersebut menjadi salah satu faktor penyebab adanya segmentasi pada rubrik olahraga Jawa Pos, meskipun hal kontradiksi disampaikan oleh Azrul Ananda dalam mediakompasiana.com seperti yang telah dijelaskan diatas. Oleh karena itu, usia merupakan bagian penting untuk menjadi bagian dari identitas seseorang audience pembaca, yang kemudian memiliki kecenderungan persamaan kebutuhan informasi dengan orang lain seusia (Michael R. Solomon, 2009:574). Kebutuhan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebutuhan membaca sebuah content media.
Faktor identitas inilah yang mempengaruhi setiap individu masyarakat Surabaya pembaca rubrik olahraga Jawa Pos memiliki preferensi yang berbeda dalam membaca headline, teks, kolom, ataupun cutline. Hal ini sejalan dengan pemikiran McQuail yang beranggapan bahwa dalam kosumsi content media, audience sangat erat identitas demografis seperti usia, jenis kelamin dan faktor-faktor psikologis.

 Kemudian  kecenderungan membaca content rubrik olahraga tersebut dapat dilihat melalui Four-fungsional (diversi, hubungan personal, identitas personal, dan surveillance) dalam teori uses and gratification. Kelompok usia tertentu akan memiliki kecenderungan yang sama. Mereka yang berusia remaja dan dewasa awal secara tidak sadar menyukai bacaan yang hal-hal yang berbau trend dan hiburan, dan bacaan tentang olahraga merupakan salah satu content media yang digunakan oleh audience untuk memenuhi kebutuhan hiburan (Hawkins, 2010:132).
Audience dalam membaca rubrik olahraga Jawa Pos tentunya dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan informasinya. Audience membutuhkan informasi sebagai bagian dari tuntutan kehidupannya, penunjang kegiatannya, dan pemenuhan kebutuhannya. Dalam pemenuhan kebutuhan informasi setiap orang dapat dipengaruhi oleh usianya, semakin tua usia seseorang maka tingkat kebutuhan informasinya juga akan semakin luas (Yusup, 1995: 8).  Keluasan content berita dalam penelitian ini dapat dilihat dari coverage area beritanya. Asumsi peneliti dari teori tersebut adalah masyarakat Surabaya yang berusia lebih tua akan lebih menyukai content berita olahraga internasional daripada yang yang berusia muda.
Dominasi usia remaja dan dewasa awal tersebut sesuai dengan apa yang pada content Jawa Pos yang juga memiliki halaman khusus DBL dan deteksi. Halaman tersebut secara luas membahas tentang anak muda dan anak usia SMA. Faktor inilah yang juga mempengaruhi masyarakat khususnya anak muda dan dewasa awal untuk membaca rubrik olahraga Jawa Pos.

PREFERENSI MASYARAKAT SURABAYA MEMBACA RUBRIK OLAHRAGA

preferensi masyarakat Surabaya dalam membaca rubrik olahraga 
Surat kabar Jawa Pos memiliki segmentasi olahraga yang cukup kuat, sedangkan dalam tema olahraga, perbedaan status sosial, perbedaan usia, dan perbedaan lainnya tidak terlalu berpengaruh. Penelitian survey ini menggunakan teknik pengolahan data pada penelitian menggunakan metode item selection dan tracking study, sehingga pengumpulan data yang dipergunakan adalah kuesioner dan lembar eksemplar rubrik olahraga yang telah dibaca masyarakat Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan, preferensi masyarakat surabaya terhadap rubrik olahraga Jawa Pos berdasarkan header halamannya adalah Sportainment, berdasarkan jenis olahraganya adalah Sepak bola, dan berdasarkan coverage area beritanya adalah berita Internasional. Masyarakat Surabaya membaca dengan cara yang sama untuk content berita olahraga berdasarkan header halaman, jenis olahraga, dan coverage area beritanya. Sebagian besar masyarakat Surabaya membaca hanya sebagian content dengan cara acak. Semua masyarakat Surabaya membaca content yang ada gambarnya, namun sebagian besar masyarakat Surabaya lebih mengutamakan teks berita daripada gambarnya.


PENDAHULUAN
Jawa Pos memiliki macam-macam segmentasi untuk pembaca, sehingga muncul kedekatan/proximity dengan kehidupan sehari-hari pembaca. Ini dikarenakan Jawa Pos memiliki segmentasi yang kuat terhadap anak muda dan olahraga. (www.jawapos.co.id/awards, diakses tanggal 12 agustus 2012). Dalam tema olahraga, perbedaan status sosial, perbedaan usia, dan perbedaan lainnya tidak terlalu berpengaruh.  Selain itu, pada surat kabar Jawa Pos memiliki segmentasi olahraga yang cukup kuat. Ini dibuktikan dengan adanya kompetisi bola basket antar sekolah yang disebut DBL (www.jawapos.co.id/awards, diakses tanggal 12 Agustus 2012 ).
Kedekatan pembaca dengan content yang dibacanya akan memunculkan minat membaca macam content dari rubrik olahraga berdasarkan letak content (headline, teks, kolom, cutline, dan sebagainya), berdasarkan jenis olahraga (sepak bola, bola basket, tenis, tinju, balap motoGP, dan lain sebagainya), berdasarkan area yang diberitakan, dan berdasarkan coverage berita (lokal, nasional, internasional). Preferensi membaca tersebut merupakan perspektif individu dari perbedaan karakteristik demografis audience pembaca rubrik olahraga di Jawa Pos. Dalam penelitian ini audience ditempatkan sebagai individu yang aktif dan pemakaian media memiliki tujuan tertentu yaitu memenuhi kebutuhan untuk memuaskan diri mereka (Rakhmat, 2003: 205).
“…The uses and gratification approach focuses on the active individual media user that selects media content on the basis of personal needs and motives. The use of particular media is perceived to result in particular individual psychological rewards…” (Wimmer & Dominick 1994:270).

Preferensi membaca dipengaruhi oleh motif oleh pembacanya. Sedangkan motif merupakan ciri dari kebutuhan. Untuk memilih sebuah bacaan rubrik dalam surat kabar Jawa Pos ini, ada dorongan diri, keinginan, hasrat, dan tenaga penggerak yang berasal dari dalam diri manusia untuk membacanya. Sedangkan salah satu ciri audience aktif menurut Frank Biocca adalah perilaku selektif (berkaitan langsung dengan preferensi) yang akan menyeleksi hal-hal yang mendukung keyakinannya dalam memilih informasi yang menarik minat mereka (Nurudin, 2003: 183).
Setiap individu memiliki ketidaksamaan atas pemilihan content dari sebuah media yang dibutuhkan. Dengan adanya bermacam variasi content dalam sebuah media, maka dapat dibayangkan bagaimana masyarakat pembaca Jawa Pos yang heterogen memiliki minat baca atas sebuah content yang berbeda-beda. Sesama pembaca rubrik olahraga dalam surat kabar ini, memiliki masing-masing kebutuhan untuk memenuhi pemuasan diri. Kemudian, pembaca menyeleksi content berita yang tertulis dalam surat kabar tersebut sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Hal inilah yang menyebabkan adanya segmentasi dari content media. Jika dalam surat kabar tertulis semua berita, maka akan menarik bagi semua pembaca tanpa adanya pemilah-milahan media (Siregar, 2002: 25-26).
Pada pemilihan content media, khususnya olahraga  akan sangat menarik jika dapat dilihat dari perbedaan karakter individual pembacanya. Perbedaan tersebut salah satunya dapat dilihat dari jenis kelamin. Dari jenis kelamin tersebut maka asumsi peneliti adalah ada  kedekatan content ddengan pembacanya. Seperti contoh adalah peranan laki-laki dan perempuan dalam olahraga. Seperti yang diungkap oleh IOC (2007:1) bahwa semula para wanita yang berlaga di olimpiade hanya mengikuti cabang olahraga tenis, berlayar, kriket, menunggang kuda, dan golf. Sekarang para wanita sudah dapat memainkan berbagai cabang olahraga modern seperti sepakbola, hoki, olahraga bela diri, triathlon dan bahkan pentathlon. 
Prestasi yang dicapai para wanita dalam olahraga sering pula dikaitkan dengan pandangan yang tradisional dan modern terhadap mereka. Pandangan tradisional menyebutkan bahwa wanita adalah makhluk feminis, lemah lembut,serta memiliki image seksualitas yang tinggi sebagai bentukan budaya di seluruh dunia. Ketika wanita itu berpartisipasi dalam olahraga dan berprestasi, berbagai pandangan mulai dari tubuh yang lebih maskulin dan kehidupan seksualitas mereka yang sering kali menjadi bahan pembicaraan. Media ikut andil dalam membangun pandangan-pandangan tersebut. Seperti yang diungkap oleh Maguire (2002:61) bahwa
“…when succesful athletes are perceived to be a challenge to established gender ideology, such as being lesbian or being heavily muscled, they can receive negative media commentary…”

Pengaruh media yang begitu besar telah memberikan Brand Image positif maupun negatif terhadap partisipasi wanita dalam olahraga. Secara global juga pandangan-pandangan yang ditujukan pada wanita yang berpartisipasi dalam olahraga dibangun oleh media itu sendiri. Dari pemikiran tersebut, maka peneliti berasumsi bahwa setiap individu memiliki preferensi yang berbeda dalam membaca headline, teks, kolom, ataupun cutline. maka pertanyaan yang muncul adalah “Bagaimana preferensi membaca rubrik olahraga Jawa Pos di Surabaya?”. Untuk membuktikan asumsi tersebut, maka peneliti mencari tahu bagaimana setiap pembaca rubrik olahraga pada surat kabar Jawa Pos memilih headline, teks, kolom, ataupun cutline tersebut dengan menggunakan penelitian deskriptif dengan metode survey di kota Surabaya.